Penulis: Triatmo Doriyanto, Eunike Prasasti, dan Suhartono

TRIBUNNEWS.COM-Gebyok atau partisi awalnya merupakan bagian utama rumah Shengadate (RAK), yang membatasi dunia sekuler dan sakral. Secara filosofis, ini berarti bahwa jika pembatasan tidak ada, itu dapat mengganggu keseimbangan antara dunia eksternal yang terkait dengan orang lain dan dunia internal yang terkait dengan upacara keagamaan penduduk pemilik atau penciptanya.

Kuil adat itu sendiri muncul dan dikembangkan dari rumah tradisional Jawa Joglo di Kudus, yang telah mengalami perubahan filosofi dan struktur fisik bangunan, yaitu bentuk atap, Tata ruang dan detail balok, pilar, dan dinding karena pengaruh Buddhisme India, Cina, Islam, dan beberapa budaya Eropa. Ini bisa dilihat dari menyederhanakan tata ruang, bentuk atap, mengubah posisi dapur, kamar mandi, dan penggunaan pola pahatan yang indah pada sebagian besar balok, kolom, dan dinding. rumah.

“Asal mula dan perkembangan gebyok. Gebyok bukan hanya hasil seni pahat, tetapi juga hasil akumulasi sejarah, budaya, agama dan kearifan lokal seluruh rakyat Indonesia. Dari sekitar 1500 di Kudus Era telah ditemukan hingga hari ini, dan periode ini telah sampai sekarang.Dalam sejarahnya, banyak selebriti telah menjadi pelopor dan “arsitek” dari gebyok, simbol rumah Jawa, sampai bentuk saat ini, yaitu dari penerbit dan pendiri buku. Triatmo Doriyanto, penulis dan pendiri Geatok Ikon Rumah Jawa, mengatakan bahwa dari waktu ke waktu pakar pertukangan Kudu dan Jepara mengatakan di Jakarta, Sabtu (2/5/2020).

Ada banyak tokoh dalam pengembangan gebyok, seperti Sun Qingang , Kyai Telingsing dan Cie Swie Guan, yang terakhir ini juga disebut nom oleh Sungging Badar Duwung. Dikatakan bahwa selain menyebarkan Islam, Sun Jinan adalah yang pertama kali datang ke ibukota kuno, ia juga mengajarkan teknik patung.

Sebagai Su Ling Sing, teman baik Sunan Kudus, terus mengembangkan keterampilan ayahnya dalam menyebarluaskan seni pahat, sambil menyebarkan Islam ke Kudus. Pada saat yang sama, ia masih menjadi lokasi Kudus Jepara, Cie Swie Guan mengembangkan seni ukiran batu dan membangun masjid Mantingan di Demak, yang juga merupakan dasar dari dekorasi gebyok di gedung.

Selain itu, dua setengah abad kemudian, seorang pria bernama Di Bonego Murid-murid Pangeran Rogomoyo terus bekerja dalam seni pahat dan pertukangan kayu di desa Kaliwungu di Kudus.-Perkembangan Gabic dan seni pahat tidak berhenti di situ. Kartini sendiri adalah salah satu Patung seorang wanita hebat yang pada waktu itu mempromosikan seni ukiran gebyok sebuah desa di kaki gunung ke sebuah pameran di Den Haag, Belanda pada waktu itu.

“Dia juga menciptakan desain patung Jepara dan mendorong pemahat Jepara untuk melewati patung itu Hasilnya dipromosikan kepada teman-temannya di Belanda, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia, pada patung Jepara yang terkenal, “kata penulis lain Eunike Prasasti, selama penyelidikan suaminya Triatmo di banyak daerah.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *