Penulis: Lulusan Universitas Manchester, RENI AGUSTIAN

Dalam artikel ini, saya akan mengulas “perang terbuka” antara Erick Thohir dan Adian Napitupulu. Saya tidak akan membahas motif dan tujuan perang masing-masing pihak.

Karena bagi saya, jika ini adalah “perang terbuka”, maka menganalisis motif dan tujuan setiap orang tidak lagi penting. Semoga artikel ini dapat menginspirasi kami dan memberi kami sudut pandang yang obyektif. Ada dua faktor yang membuat orang bertahan dalam “perang”. Salah satunya adalah logistik. Kedua, pengalaman.

Dari segi logistik, Adian tentunya tidak bisa dibandingkan dengan Erick Thohir dari konglomerat besar.

Apalagi saat menjadi menteri, ia mengelola aset Rp 8 triliun. Bisa dipastikan, dari segi logistik, Erick Thohir akan memiliki keunggulan 1.000%, yang tidak tertandingi di mata orang India. Kalah? –Menghitung saya, tidak mudah mengalahkan Adian. Adion bukanlah aktivis kecil. Sejak awal 90-an, ketahanan Adian diturunkan dari pertarungan yang panjang, bisa memakan apapun yang ada di hutan. Dari akar, daun, buah hingga permainan.

Kesimpulan saya adalah bahwa “perang” Erick Thohir melawan Adian tidak akan segera berakhir. “Perang” ini akan berlanjut sampai Eric Torhill mengundurkan diri. Rekonsiliasi istana.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *