Disediakan oleh: Bambang Soesatyo, Ketua Dewan Permusyawaratan Rakyat Indonesia

TRIBUNNEWS.COM-Ziarah Ramadhan dan Idul Fitri 1441H telah berlangsung dan dirayakan dalam pandemi Covid-19. Kemenangan para jemaah di masa yang penuh gejolak kini menunjukkan kearifan mereka dalam bentuk yang lebih optimis, mereka takut bekerja sama memutus rantai penularan Covid-19 dan berani berangsur-angsur hidup kembali.

L Kegelisahan dan Ketakutan Tertular Covid- Antusiasme berusia 19 tahun tak kunjung surut, peminatnya akan berpuasa Ramadhan. Karena kesadaran akan karantina diri di rumah, dalam suasana yang tidak nyaman, berpuasa memaksa orang untuk menahan lapar dan haus, serta dipaksa untuk membangun kemauan untuk memahami diri sendiri guna menghilangkan emosi, amarah, kecemburuan dan keinginan tidak sehat lainnya. Kesederhanaan merayakan Idul Fitri 1441 H mencapai ibadah Ramadhan yang menandai kemenangan umat di masa-masa sulit ini. Pandemi belum berakhir. Data tentang wabah di rumah mungkin lebih dramatis. Seperti yang diperkirakan sebelumnya, mobilitas masyarakat akan berdampak pada peningkatan jumlah penderita Covid-19 akibat resepsi hari raya. Alasan kenaikan itu mungkin karena pulang dan pulang, warga mall yang diserbu tanpa mengikuti prosedur sanitasi, dan masuknya pekerja migran. -Bahkan jika perkiraan ini menjadi kenyataan, publik tidak boleh pesimis. Untuk masa depan yang lebih besar dan strategis, setiap orang pada akhirnya harus siap dan berani untuk hidup kembali secara bertahap, sambil menerapkan prinsip kehati-hatian yang diatur dalam peraturan kesehatan selama pandemi Covid. 19. Untuk memulihkan kehidupan, setiap orang, suka atau tidak suka, harus siap “berdamai” dengan virus corona. Berdamai tidak berarti merangkul virus dan membuatnya menginfeksi semua orang. Mencapai perdamaian berarti umat manusia harus mengembangkan strategi untuk bersiap hidup berdampingan dengan virus ini.

Salah satu strateginya adalah dengan mematuhi prosedur kesehatan. Para ahli tidak memprediksi bahwa virus Corona tidak akan hilang dalam jangka pendek. Oleh karena itu, setiap orang harus memiliki rencana untuk bertahan hidup, sebagaimana masyarakat dapat menjalankan Ramadhan dengan cepat di masa-masa sulit.

Karena durasi pandemi Covid-19 masih sulit dihitung, semua orang tidak punya banyak pilihan kecuali melanjutkan. Bertahan, atau lihat dan rasakan kehancurannya. Jika terus melakukan karantina sendiri di rumah atau di dalam kurungan berarti manusia sedang membiarkan virus corona menghancurkan semua aspek peradaban.

Sebagai makhluk yang waras, tentunya manusia tidak bisa dikalahkan oleh wabah korona. Alasan tersebut menjadi alasan yang digunakan untuk mengalahkan virus corona. Sambil menunggu apoteker memberikan vaksin melawan virus ini, manusia harus berani mengembangkan strategi bertahan hidup dan mencegah kehancuran. -Ini mengapa perlu memelihara dan memelihara optimisme. Selain itu, sejarah telah membuktikan bahwa akibat pandemi global, umat manusia selalu mampu menghadapi masa-masa sulit. Kehidupan pasca pandemi Spanyol pada 1918 setidaknya bisa dijadikan bukti.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *