Penulis: Dr. Sumaryoto Padmodiningrat MM

TRIBUNNEWS.COM-Djoko Soegiarto Tjandra benar-benar kuat. Kenapa tidak?

Dengan kekuatan gaibnya, penjahat dijatuhi hukuman dua tahun penjara karena mentransfer faktur senilai Rp904 miliar atau kasus korupsi yang melibatkan “cessie” Bank Bali. -Petugas imigrasi dari Desa Grogol Selatan di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, petugas bandara, petugas yang membuat kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) atau e-KTP, dan pendaftar permintaan pertimbangan ulang (PK) dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN) .

Bukan hanya menipu Djoko Tjandra, tapi juga diduga mendapat fasilitas dan “keistimewaan” atau perlakuan khusus dari berbagai partai politik. -Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengumumkan bahwa Djoko Tjandra tidak melanggar peraturan apa pun, sehingga taipan memiliki hak untuk mendapatkan paspor elektronik dan paspor baru.

Jika Djoko tidak punya kekuasaan, bagaimana mungkin dia yang dicurigai melarikan diri selama 11 tahun bahkan diduga memiliki paspor? Ataukah Papua Nugini mengatakan bahwa Tito tidak bermasalah dan berhak atas paspor elektronik dan paspor baru?

Jika kemampuan Djoko tidak kuat, bagaimana pabrikan resmi KTP di Unit Layanan Jalan (Satpel) Grogol Selatan Kantor Kependudukan dan Kewarganegaraan (Dukcapil) berurusan dengan Djoko dengan biaya lebih murah ( E-KTP Djoko) selama lebih dari satu jam?

Jika Djoko tidak mampu, bagaimana mungkin dia hanya mengirim foto lama KTP dan kartu keluarga (KK) ke telepon Asep Subah, walikota Grogol Selatan, dan meminta pemrosesan segera KTP.

Sebenarnya, ia bertemu langsung dengan kepala desa kota Grogol Selatan Asep Subah dan dibawa ke sub-departemen kota setempat Dukcapil.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *