Biar pelajar tertarik Kutu buku

Penulis: SMK Kesehatan BIM Ngawi Guru Bahasa Indonesia TEGUH WIDODO, M.Pd – “Buku adalah jendela dunia” selalu menimbulkan hikmah bergema di sekolah. Agar kelangsungan hidupnya benar-benar menjadi mata air yang berharga, seperti mata air di gurun pasir.

Minatnya yang tajam dalam membaca memengaruhi pengetahuan, pikiran, dan perilakunya.

Namun seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan modernisasi, keberadaan buku telah berubah dan telah tergantikan oleh e-book atau digitalisasi. Kemudian slogan tersebut secara otomatis berubah menjadi “Google adalah jendela dunia”.

Ini terdengar aneh, tapi ini fakta. Teknologinya mungkin lebih maju, tetapi tidak menjamin keaksaraan normal.

Rata-rata waktu membaca orang Indonesia hanya 30-59 menit per hari, yaitu kurang dari satu jam. Sedangkan jumlah buku yang diselesaikan tiap tahunnya hanya 5-9 buku. 4 hingga 6 jam sehari-minat baca berbanding lurus dengan tingkat kemajuan pendidikan di suatu negara. Kegiatan membaca sangat penting untuk kemajuan suatu negara. Parameter kualitas suatu negara dapat dilihat dari status pendidikannya. Pendidikan selalu dikaitkan dengan kegiatan belajar (Harjasujana, 1997).

Gerakan literasi di seluruh dunia telah menjadi gerakan bom waktu, menekan membaca. Istilah “milenial yang saat ini suka membaca buku” adalah “Google aneh, bukan kutu buku.”

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *