Ibadah cegah studi Al-Azhar di Mesir, dan Pusiba memberikan solusi

Penulis: KH. Massachusetts, Massachusetts Imam Jazuli (Imam Jazuli), Massachusetts, Massachusetts *

TRIBUNNEWS.COM-Masyarakat Indonesia membutuhkan administrasi keagamaan yang kooperatif, tidak mementingkan diri sendiri, dan tidak memihak, terutama calon mahasiswa baru (Camaba) Al-Azhar d’Indonesia. Sejauh ini, Kementerian Agama belum mengubah kebijakan lama, juga belum mengumumkan kepastian ujian seleksi pasca penutupan Mesir tahun lalu. -Kementerian Agama menutup ujian seleksi tahun lalu tanpa menyebutkan batas waktu. Minimnya waktu tetap membuat masyarakat menjadi “buta”, pasif dan tidak mampu merencanakan penyelenggaraan pendidikan. -Kebijakan lama Kementerian Agama memang merusak dan dapat menghalangi semua kesempatan bagi Camaba yang ingin melanjutkan pendidikan di Al-Azhar, Mesir. Hal penting yang perlu diketahui adalah Al-Azhar merupakan pusat pendidikan ideologi Ahlus Sunnah wal Jamaah. Oleh karena itu, Kementerian Agama tidak perlu terlalu menaruh perhatian dan berharap untuk terus mengontrol pengaruh ideologi Islam radikal.

Kebijakan Kementerian Agama lain yang dianggap merugikan adalah sikapnya. Saya suka meminimalisir jumlah kuota ketika al-Azhar membuka peluang sebanyak-banyaknya. Ini selalu dilakukan melalui penerapan mekanisme review seleksi.

Faktanya, seleksi harus digunakan meskipun ada pilihan, sehingga eksekutif yang dipilih adalah “duta” yang sebenarnya dan dapat menanggapi standar yang ideal. Tapi yang jadi masalah adalah tes skrining versi Kementerian Agama itu hanya menutup-nutupi. Memang kriteria seleksi Kementerian Agama berada pada level kualitas yang sangat rendah. -Kualitas buruk berasal dari bentuk ujian skrining pilihan ganda. Tentu saja model soal pilihan ganda ini tidak memenuhi standar Al-Azhar yang selalu berbentuk makalah. Ujian pilihan ganda tidak dapat menjamin kualitas peserta yang lulus dari kemampuan yang ditentukan oleh Al-Azhar. Anda dapat memilih “Tidak masalah”, tetapi karena keberuntungan, jawabannya benar dan peserta dinyatakan lulus. Kembali untuk mengikuti ujian seleksi selanjutnya yang diselenggarakan oleh Al-Azhar sendiri. Karena al-Azhar masih ragu dan mempertanyakan kualitas pilihan Kementerian Agama, apakah layak masuk kampus? Bisakah Anda bayangkan betapa mengejutkannya itu? Ketika 1.500 Kuda Emas Indonesia (dipilih oleh Kementerian Agama) melalui proses seleksi organisasi Al-Azhar, hanya 10-20 lulusan yang berhasil diterima di Universitas Al-Azhar. Jadi apa yang akan terjadi dengan ribuan orang lainnya? Jelas, Al-Azhar meminta mereka kembali ke sekolah bahasa selama 1 hingga 2 tahun. Artinya, ini bukti nyata bahwa pilihan Kementerian Agama memang salah, dan merupakan level paling rendah, serta ada risiko siswa yang harus masuk sekolah bahasa terlebih dahulu akan membuang-buang waktu.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *