Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Bambang Soesatyo, Ketua Musyawarah Rakyat Indonesia, mengatakan sebagai negara kepulauan terbesar di dunia dengan sumber daya laut yang melimpah, nelayan harus menjadi profesi yang menjanjikan dan sejahtera. Dengan luas perairan 5,8 juta kilometer persegi, meliputi wilayah laut teritorial 300.000 kilometer persegi, wilayah nusantara seluas 2,95 juta kilometer persegi dan zona ekonomi eksklusif (ZEE) 2,55 juta kilometer persegi, bayangkan sangat luas. Dulu potensi sumber daya laut yang bisa dimanfaatkan Indonesia.

“Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mencontohkan bahwa potensi kelestarian sumber daya perikanan tangkap laut di Indonesia mencapai sekitar 65 juta ton per tahun, dan tingkat pemanfaatannya mencapai 5,71 ton. Pada saat yang sama, potensi sumber daya perikanan laut yang berkelanjutan diperkirakan akan terus meningkat. 12,54 juta ton per tahun didistribusikan di perairan teritorial dan perairan zona ekonomi eksklusif, ”kata Bamsoet pada Virtual Meeting Pimpinan Nasional Himpunan Nelayan Indonesia (HNSI), Jakarta, Rabu (1/7/20).

Rapat hampir dihadiri oleh Menteri Perikanan dan Kelautan Edhy Prabowo, Panitia Pertimbangan DPP HNSI Laksamana TN I (kembali) Bernard Kent Sondakh, General Manager DPP HNSI , Jenderal Tiga Kerajaan (kemudian) Yusuf Solichien (Yusuf Solichien). Bamsoet dari Panitia Pertimbangan DPP HNSI berharap Panitia Nasional Musyawarah Nasional dapat menjadi motor penggerak untuk memperkuat kekuatan dan kedewasaan organisasi HNSI. Bersamaan dengan itu, sejak berdirinya HNSI pada 21 Mei 1973, sebagai sarana introspeksi, HNSI telah eksis selama 47 tahun.

“Mengingat sebagian besar nelayan Indonesia memiliki sumber daya alam laut yang melimpah, HNSI harus selalu menjadi yang terdepan dalam penderitaan nelayan. Adanya illegal fishing oleh kapal asing dan terbatasnya kemampuan sumberdaya nelayan untuk menghadapi persaingan menjadi dua faktor yang melatarbelakangi. Faktor Bamsoet mengatakan: “Karena prospek karir nelayan yang buruk, produktivitas nelayan rendah. Penurunan jumlah nelayan. — Mantan Ketua MPR ini mendukung usulan Presiden Joko Widodo untuk menjadikan lautan sebagai negara kebijakan masa depan bagi Haiti dan Indonesia menjadi poros lautan dunia. Visi gemilang ini akan menjadi slogan tanpa slogan. , Artinya, jika semua pihak tidak serius dalam memecahkan dan mengoptimalkan semua sumber daya yang tersedia.

“Mengingat keanekaragaman hayati laut negara, visi ini kemungkinan besar akan terwujud. Indonesia memiliki keanekaragaman jenis yang sangat luas, dengan 8.500 jenis ikan, 555 jenis alga, dan 950 jenis bioma terumbu karang, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan keanekaragaman hayati laut terbesar di dunia, terutama letak geografisnya yang strategis antara dua benua di Asia dan perdagangan dunia. Di China, perdagangan laut menyumbang 80% perdagangan dunia, dan perairan Indonesia menyumbang 40% perdagangan dunia, ”jelas Bamsoet. Ketua Umum Federasi Industri dan Perdagangan Indonesia itu juga mengenang upaya optimalisasi sumber daya laut menghadapi tantangan besar, terutama di Indonesia dan dunia. Menghadapi pandemi Covid-19, akibatnya harga-harga naik. Jumlah ikan yang ditangkap merosot tajam karena jumlah pembeli yang berkurang drastis.

“Banyak industri yang mengandalkan makanan laut, seperti restoran, makanan laut Perusahaan juga mengurangi atau bahkan menutup aktivitas perdagangannya. Bamsoet mengatakan, pembatasan mobilitas angkutan ikan dan penurunan ekspor, serta pembatasan masuk dan keluar antar daerah juga berdampak pada rendahnya pendapatan nelayan.

Kepala Kemhan FKPPI mendorong pemerintah untuk selalu eksis menyelamatkan nelayan melalui kebijakan mundur. Misalnya, pembelian produk nelayan, memastikan arus pasokan logistik serta sarana dan prasarana pendukung, mendorong kerja sama antar lini produksi untuk menciptakan sinergi terbaik, optimalisasi sistem resi gudang atau sistem waktu penjualan, dan berbagai kebijakan lainnya. Bahkan promosi slogan kampanye promosi konsumsi ikan (IKAN GEMAR) akan meningkatkan kesadaran akan peningkatan konsumsi ikan yang dihasilkan oleh nelayan.

“Keberhasilan penanganan pandemi Covid-19 membutuhkan komitmen dan upaya bersama dari seluruh komponen negara.Dalam situasi saat ini kita semua sedang menghadapi krisis, sangat penting bagi setiap komponen masyarakat untuk berperan dan memberikan kontribusi sesuai bidangnya masing-masing. HNSI masih berdiri berdampingan dalam menghadapi pandemi Covid-19 dan bekerja sama sebagai negara, ”tutup Bamsoet.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *