TRIBUNNEWS.COM-Wakil Ketua Konferensi Permusyawaratan Rakyat Indonesia Hidayat Nur Wahid mengungkapkan keprihatinan atas pengakuan Kementerian Tenaga Kerja dan Imigrasi yang tidak bisa menolak kedatangan tenaga kerja asing asal Tiongkok saat bencana nasional Covid-19. -Hidayat pun mengaku khawatir dan meminta Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI untuk melakukan hal tersebut. Dugaan diskriminasi dan perbudakan terkait media Korea Selatan, serta laporan pelanggaran HAM oleh WNI yang bekerja di kapal berbendera Tiongkok, semuanya sudah diselidiki. Selain itu, dugaan kekerasan tersebut mengakibatkan kematian dan jasadnya “dibuang” ke laut.

“Ini membutuhkan penyelidikan penuh. Kementerian Luar Negeri bisa bekerja sama dengan otoritas Korea Selatan atau komunitas internasional terkait lainnya,” kata Hidayat dalam siaran persnya. Ia menyampaikannya ke Jakarta pada Kamis (7/5).

Hidayat, yang juga anggota DPRD DKI Jakarta, meyakini, meski ada hukum dan regulasi internasional tentang pembuangan jenazah selama pengangkutan.Untuk kapal, jika hasil penyidikan menunjukkan benar laporan itu, pemerintah Indonesia harus mengambil langkah serius untuk menyelesaikan penyelesaian hukum secara hukum. Dugaan perbudakan atau pelanggaran hak asasi manusia terhadap pekerja migran Indonesia. -Jika benar, maka secara hukum harus ditanggapi dengan serius sesuai dengan ketentuan yang berlaku sebagai bukti keberadaan negara untuk melindungi seluruh rakyat Indonesia. Ditambahkan Hidayat.

Selain itu, Hidayat yang biasa disapa HNW mengingatkan pemerintah Indonesia esia yang dalam hal ini Kementerian Luar Negeri bertanggung jawab melindungi seluruh WNI di luar negeri. Menurutnya, media Korea memberitakan tentang perbudakan. Insiden tersebut jelas telah merusak penampilan seluruh bangsa Indonesia. Pekerja dengan kekayaan bersih sangat menyayangkan kejadian tersebut, karena sangat kontras dengan perlakuan yang diberikan pemerintah Indonesia kepada pekerja Tionghoa di Indonesia. Indonesia. Monkumham (Monkumham) bahkan diberlakukan Peraturan Menteri melarang TKA bekerja di Indonesia karena alasan strategis, dan yang datang adalah TKA Tionghoa. Dengan cara yang tidak manusiawi, bahkan mati, dan beberapa jenazah orang “dilempar” ke laut-dalam hal ini Menurut beberapa laporan, tidak seperti pekerja Cina, pekerja Indonesia bekerja lebih dari jam kerja normal, lebih dari 11 jam sehari, dan upah serta air minum mereka sangat rendah.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *