Jakarta TRIBUNNEWS.COM-Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mendorong generasi milenial Santri untuk mematahkan stigma. Kita tidak hanya harus belajar dengan giat untuk mempersiapkan dunia yang akan datang, tetapi juga belajar dengan giat untuk mengambil alih dunia agar dapat mewujudkan kemajuan bangsa dan negara dalam menghadapi tantangan abad ke-21. Sambil mempelajari berbagai kertas kuning, siswa juga harus berpartisipasi dalam kewirausahaan dan berbagai bidang pelatihan, yang mungkin menjadi kecenderungan untuk menguasai dunia. Di antaranya, pendidikan teknologi informasi harus menjadi faktor yang dapat mengubah wajah dunia. Misalnya pengembang software, analis sistem komputer, developer web, analis keamanan informasi, arsitektur jaringan komputer, kata Bamsoet di Santri Millennial Management Reception Center (SIMAC) di studio presiden MPR RI di Jakarta. (4/8/20). Hadir pula Gus Rahman, Risti Yuni, Jhon Daniel, Omar Ara, Agus Fuad dan Dini.

Mantan Presiden MPR menjelaskan bahwa di sebelah kanan, Presiden Joko Widodo mencontohkan beberapa hari lalu bahwa negara membutuhkan setidaknya 9 juta anak dengan keterampilan digital dalam 15 tahun ke depan. Mereka bukan tidak mungkin didapat dari lulusan pesantren.

Hingga akhir tahun 2019, data Kementerian Agama menunjukkan jumlah santri sebanyak 28.194 dan terdapat 5 juta mahasiswa mukim. Jika ditambah dengan pemulangan santri pondok pesantren, taman pendidikan, dan pesantren, jumlah santri bisa mencapai 18 juta. Menurut SIMAC, 4 juta di antaranya adalah kaum milenial. “Negara telah mengakui keberadaan pondok pesantren sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional. Oleh karena itu, negara juga bertanggung jawab untuk memberikan dukungan, salah satunya adalah dukungan dana. Bantuan pesantren yang diambil dari Dana Wakaf Pendidikan masih menunggu penyelesaian dari presiden,” Bamsoet menjelaskan.

Wakil Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia mengungkapkan, pandemi Covid-19 telah membuka pandangan masyarakat. Faktanya, kedaulatan ekonomi yang tidak lagi bergantung pada produktivitas nasional bisa dinegosiasikan.

Tidak lagi membiarkan kebijakan impor yang tidak berarti yang merusak berbagai sektor ekonomi, khususnya sektor pangan yang menopang kehidupan masyarakat. Kuncinya adalah mendorong ekonomi pedesaan menjadi penyedia pangan dan sumber daya manusia, antara lain Desa Wisata Pertanian (DEWA), Desa Wisata Industri (DEWI) dan Desa Digital (DEDI). “Masyarakat yang tersebar di pedesaan memainkan peran penting dalam memajukan konsep ini, sehingga setiap desa dapat memaksimalkan kemandirian ekonominya.”

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *