Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Bambang Soesatyo, Ketua Musyawarah Rakyat Indonesia, bekerja sama dengan Gerakan Gerak BS, dan relawan dari empat pilar kembali memberikan bantuan kepada para pengemudi taksi. Bersamaan dengan itu, setelah harga minyak dunia turun dari rata-rata 60 dolar AS per barel menjadi sekitar 30 dolar AS per barel, pemerintah didorong untuk menerapkan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) melalui Pertamina. Harga naik dan Pertamina dengan cepat menaikkan harga bahan bakar. Jika harga minyak dunia turun, Pertamina juga akan segera menurunkan harga BBM. Berdasarkan perhitungan kasar, harga bahan bakar minyak saat ini diperkirakan turun dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.500 per liter. Atau setidaknya perusahaan memiliki kebijakan khusus. Akibat pemberlakuan pembatasan sosial skala besar (PSBB), pendapatan pengemudi taksi turun karena minimnya penumpang, yang akan diuntungkan dengan turunnya harga BBM, “kata Bamsoet, menuju Jakarta Selatan, Rabu (1 3/5/20). Usai supir taksi Ekspres di kawasan Pesanggrahan Bintaro memberikan bantuan. – Mantan presiden DPR RI itu mengimbau seluruh lapisan masyarakat untuk terus bekerjasama membantu sesama yang bergelut dengan opini. Kondisinya semakin menurun akibat pandemi Covid-19. Ia juga mengingatkan para pimpinan daerah dan kelompok lain untuk meniru gotong royong yang ditunjukkan masyarakat.

“Pemimpin jangan mempolitisasi bansos yang sebenarnya bersumber dari dana masyarakat. Bantuan masyarakat di daerah masih cukup besar, dan penyaluran bantuan sosial sangat padat, bernuansa politisasi. Hal ini juga yang harus menjadi perhatian Bawaslu, ia juga mengingatkan kepada para pimpinan daerah agar nantinya digunakan dalam pemilu, agar tidak menggunakan bantuan sosial untuk kepentingan pribadi dalam APBN dan APBD. Kecuali jika bantuan tersebut benar-benar berasal dari masyarakat yang terkena dampak, “

Wakil Presiden Paguyuban Pemuda Pancasla menambahkan bahwa pemimpin harus lebih peka. Semua ini dilandasi keikhlasan dan semangat kebangsaan, serta rasa kebersamaan bersama .- — “Pandemi Covid-19 seharusnya benar-benar membuka hati para pemimpin kepada orang-orang. Pada saat yang sama, itu membuktikan kekuatan dan ketahanan para pemimpin dalam krisis multi-aspek ini. “Padahal, bencana dan penderitaan rakyat itu menjadi komoditas politik dan memanfaatkannya untuk kepentingan pribadi dengan melindungi diri dari regulasi kebencanaan dan bantuan sosial,” tutup Bamsoet.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *