Malang, TRIBUNNEWS.COM – Konferensi Konsultasi Rakyat Republik Indonesia (MPR RI) dan Universitas Negeri Malang (UM) mencatat babak baru dalam manajemen perpustakaan. Perpustakaan MPR Republik Indonesia dan Unit Layanan Teknis Universitas Negeri Malang (UPT) melakukan ukiran sejarah pada Sabtu (14/3/2020), dan untuk pertama kalinya melakukan kolaborasi di kampus untuk membahas karya ilmiah atau karya tulis. Itu diadakan di lobi perpustakaan UM di kampus UM di Kota Malang, Jawa Timur dan ditandatangani oleh semua pihak. MPR disediakan oleh MPR Siti Fauziah, SE. , Kepala Kantor Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal MM, dan dalam kasus UM oleh Aa Kosasih, S, direktur manajemen perpustakaan UM. Jadi Dr. Djoko Saryono, seorang profesor di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Michigan, yang tidak dapat hadir, dan Dr. Sukowiyono dari MH, menghadiri upacara penandatanganan dokumen kerja sama. Senat MU. Saya juga melihat Didik Sutiono, SH, seorang profesor di UM School of Social Sciences. Dosen perpustakaan UM, S. Jadi , M.Pd; Setiawan. Kepala Departemen Perpustakaan MPR Yusniar, Shanghai.

Untuk pertama kalinya, kerja sama semacam ini dilakukan dalam bentuk kegiatan perpustakaan universitas, yaitu, dalam hal ini, kegiatan review buku dilakukan dalam bentuk esai atau karya ilmiah oleh mahasiswa Universitas Negeri Malang. Universitas. Kali ini, di perpustakaan universitas, karya-karya Nisa A’rafiyah Tri Wulandari (Nisa A’rafiyah Tri Wulandari) dipilih. Buku Nisa adalah tesis tentang proyek S-2, berjudul “Hubungan antara Kewarganegaraan dan Partisipasi Politik Mahasiswa”.

Siti Fauziah, kepala Kantor Hubungan Masyarakat MPR, mengatakan dalam pidatonya bahwa dia sangat berterima kasih kepada S.Sos. Konten yang disampaikan oleh Aa Kosasih, ke depan, kerja sama ini akan semakin diperkuat. “Apa yang terjadi sekarang adalah semacam kerja sama pendahuluan. Di masa depan, kerja sama akan diperkuat dalam pertukaran koleksi,” kata Corsassi, menambahkan bahwa karya-karya yang ditulis oleh para sarjana UM dapat menjadi koleksi perpustakaan MPR. Dia berkata: “Ini hampir merupakan bentuk kerja sama.” Untuk memperkuat kerja sama ini, Kosasi mengutip seorang pemimpin yang mengatakan bahwa sekarang bukan lagi waktu untuk bersaing, tetapi sekarang saatnya bagi kita untuk bekerja sama. Oleh karena itu, kerja sama ini merupakan bentuk kerja sama antara dua perpustakaan: Perpustakaan Konferensi Permusyawaratan Rakyat dan Perpustakaan UPT.

Siti Fauziah juga menyadari dalam pengembangan perpustakaan bahwa mereka benar-benar harus bekerja sama. MPR telah berkomitmen untuk menjadi perpustakaan modern dan terus bekerja sama dengan perpustakaan di berbagai kampus di Indonesia. Sebelumnya, kerjasama itu dengan sebuah universitas di Yogyakarta dan sebuah universitas di Semarang.

Siti Fauziah mengakui bahwa perpustakaan MPR tidak terlalu besar dibandingkan perpustakaan institusi publik lainnya. Namun, menurut perempuan Sunda ini, perpustakaan MPR memiliki koleksi yang bukan milik perpustakaan lain. Koleksi ini dijual dalam bentuk buku-buku unik untuk MPR, bukan untuk dijual. Siti Fauziah berkata: “Buku-buku ini tidak ditemukan di perpustakaan lain.” Siti Fauziah mengatakan bahwa “Amandemen Pertama dari Amandemen Keempat” dicari, terutama oleh para siswa. . Siti Fauziah (Siti Fauziah) mengatakan bahwa ini adalah kasusnya, buku-buku ini hanya dapat dibaca di tempat, tidak dapat diambil. Ada rak buku di perpustakaan universitas di kota sejuk Malang.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *