JAKARTA, TRIBUNNEWS.COM-Pada hari-hari sebelum Ramadhan dan Idul Fitri, jelas, masyarakat berbondong-bondong. Kembalinya mereka ke rumah mereka mungkin dipengaruhi oleh peraturan seperti pekerjaan rumah, jarak fisik dan penutupan tempat usaha. Kebijakan telah diterapkan untuk mengendalikan transmisi Covid-19.

Adanya kebijakan pembatasan sosial skala besar (PSBB) telah meningkatkan jumlah orang yang kembali dari kota besar ke kota asal mereka. Ini jauh lebih berbahaya daripada proses distribusi Covid-19, karena telah terbukti bahwa banyak pekerja informal dari kota-kota besarnya menyerahkan Covid-19 kepada kerabat, tetangga, bahkan pekerja kesehatan dan dokter di kota kelahirannya. — Baca: Pidato tentang larangan pulang Lebaran 2020 masih Simpang Siur dari Kementerian Transportasi: Mungkin-dengan cara ini, transmisi Covid-19 tidak akan menjadi hasil dari migrasi skala besar ketika kembali ke rumah, dan kembali ke rumah harus dilarang. Tujuannya adalah untuk mencegah penyebaran pandemi Covid-19. Oleh karena itu, mengingat bahwa darurat pandemi Covid-19 menjadi semakin mengkhawatirkan, Syarief Hasan, wakil ketua Konferensi Konsultasi Rakyat, meminta pemerintah untuk dengan tegas memutuskan larangan kembali tahun ini. Dia mengatakan: “Kebijakan larangan berlaku untuk semua orang tanpa kecuali,” tambahnya. “Menurut pembaruan data Covid-19 pada hari Sabtu, 18 April 2020, ada 5.923 kasus. Oleh karena itu, Syarief Hasan menyatakan bahwa ini tidak terjadi. Karena pemerintah tidak tegas untuk pulang ke rumah, penyebaran virus korona sangat luas.” Karena pelaku perjalanan dapat menjadi pembawa virus tanpa menyadarinya, “jelas Syarief. Ketua panel Doni Monardo mengatakan bahwa 56% orang sadar akan bahaya virus korona, dan mereka juga memutuskan untuk tidak melakukannya.Untuk alasan ini, Syarief Hasan mendorong pemerintah untuk membangun jaring pengaman sosial bagi orang-orang dalam kasus larangan kembali ke negara tersebut.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *