TRIBUNNEWS.COM-Ketua MPR Bambang Soesatyo mengundang Kongres Pengacara Indonesia (KAI) untuk bekerja sama dengan MPR RI sehingga salah satu pembela laporan mereka dapat memasukkan empat pilar MPR RI, yang mencakup empat konsensus dasar orang Indonesia, yaitu Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, NKRI dan persatuan keanekaragaman. Selain memperkuat sinergi antara pengacara dan MPR RI, diharapkan kerjasama ini akan membuat pengacara lebih bermanfaat daripada hanya membantu klien dalam sistem peradilan. Dan juga berpartisipasi dalam pengembangan hukum dan pembela hak-hak konstitusional rakyat.

“Pengacara seharusnya tidak menjadi negosiator yang mengarah ke sengketa peradilan tetapi harus menjadi utusan perdamaian. Prinsip kedua Pancasila, kemanusiaan yang adil dan sikap beradab, telah menjadi advokat pengacara sebagai pembela keadilan Yayasan filosofis. “Kamis (27/2/20) di resepsi Dewan Direksi DPP KAI di Kantor Presiden MPR RI. –FKPPI Direktur Biro Pertahanan Nasional menekankan bahwa dalam bantuan hukum, pengacara tidak boleh mengenakan kacamata yang berkaitan dengan kemenangan. Tetapi harus proporsional dengan penggunaan kacamata hukum. Karena yang penting bukanlah menang di pengadilan, tetapi melanggar hak konstitusional warga negara.

“Para pelaku dan korban hukum menikmati hak yang dijamin oleh hukum. Tugas pengacara adalah memastikan bahwa klien mereka tidak diperkosa. Lakukan keadilan, bukan membela para pembela.”

Wakil Ketua Pemuda Pancasila Perlu diingat juga bahwa selain menjadi pengacara profesional, pengacara KAI juga harus menyamar sebagai pengacara sukarela untuk membantu kelompok rentan. Oleh karena itu, sesuai dengan prinsip hukum dan peraturan yang berlaku, pemohon keadilan dapat memperoleh hak mereka.

“Melayani sebagai pengacara sukarela adalah tugas Undang-Undang No. 18 tahun 2003 tentang pengacara. Pasal 22, ayat 1, menyatakan bahwa pengacara wajib memberikan bantuan hukum gratis kepada pengacara dan pencari peradilan yang tidak memiliki kemampuan.” Harap patuhi peraturan pemerintah No. 83 tahun 2008. Jangan biarkan pengacara yang memahami dan mempelajari hukum melanggar atau mengklaim tidak memahami peraturan yang tidak dibayar ini, “Bamsoet menyimpulkan.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *