JAKARTA TRIBUNNEWS.COM-Matahari sudah lama tidak bersinar. Banyak pedagang kaki lima mulai menjual barang untuk mendapatkan kekayaan. Mulai dari ketupat sayur, bubur ayam, ketoprak, mie ayam hingga penjaja minuman berjajar di sepanjang Jalan Proklamasi di Kota Menden, Jakarta Pusat.

Sabtu pagi (25/7/21), Ketua Musyawarah Rakyat Indonesia, Bambang Soesatyo, mengambil alih, saatnya berkeliling Menten. Saat istirahat, Bamsoet memilih ketupat a la carte untuk sarapan pagi. “Sudah berapa lama Anda berjualan sayur ketupat?” Tanya Bamsoet kepada penjual sayur selada Eka.

Eka 25 tahun asal Anyer di Kota Banten mengaku menjajal peruntungan di ibu kota selama 13 tahun. Ia berjualan di daerah Manggarai. Bamsoet melihatnya di kanal YouTube Bamsoet dan berkata: “Saat itu, Eka menggantikan ayahnya yang pulang ke kampung halamannya dan berdagang di Jalan Proklamasi.” Eka lulusan STM spesialis mobil ‘. Namun, keterampilan yang diperoleh di STM tidak cukup untuk bersaing memperebutkan pekerjaan di sektor formal. Awalnya, ia berharap bisa bekerja di bengkel mobil setelah lulus dari STM. Memang sempat sempat bekerja sebagai pramusaji di karaoke Kelapa Gading di Jakarta Utara. Gajinya kurang lebih Rp 2,7 juta. Sayang sekali tidak memperbarui kontrak. — Saya mencoba melamar pekerjaan di beberapa tempat tetapi tidak berhasil. Kemudian, Eka memilih mengikuti jejak ayahnya dengan berjualan sayur ketupat. Dia menjual barang di Manggarai, Jakarta Selatan. Ilmu yang didapat tentang STM tidak bisa diterapkan pada dunia kerja.

“Memang realitas dunia kerja saat ini masih banyak tenaga kerja yang tidak bekerja sesuai ilmu yang dipelajari di sekolah atau perguruan tinggi. Ini harus menjadi perhatian pemerintah. Bamsoet mengatakan:“ Agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan memuaskan Rencana pendidikan diperlukan. “Dampak pandemi Covid-19 sangat kentara pada perjuangan kelas bawah di sektor informal. Selama pembatasan sosial skala besar (PSBB) diterapkan di DKI Jakarta, Eka tidak bisa dijual. Dia menganggur selama tiga bulan. – Untungnya, setelah penerapan standar baru, Eka bisa dijual kembali.Namun, pendapatannya jauh dari level pandemi.Total pendapatan penjualan dari pagi hingga malam hanya Rp 200.000. -Bamsoet mengakui Covid-19 Pandemi tersebut berdampak serius di dunia kerja. Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan hingga Mei 2020, lebih dari 1,75 juta pekerja formal dan informal terdampak Covid-19.

Secara detail, PHK formal dan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) mencapai 14,3 juta. 380.221 pekerja yang di-PHK dan 1.058.284 pekerja dipulangkan. – Sedangkan untuk pekerja sektor informal yang terkena dampak, tidak kurang dari 318.959 orang. Di saat yang sama, sebanyak 80.000 perusahaan di seluruh negeri di-PHK Karyawan dan pekerja yang dipecat.

“Mungkin lebih dari itu. Tidak mungkin bagi beberapa perusahaan untuk tidak melapor ke Kementerian Ketenagakerjaan saat seorang karyawan atau pekerja diberhentikan. Sangat penting bagi pemerintah untuk segera memenuhi janjinya. “Berikan kompensasi dan pelatihan bagi pekerja yang terkena pandemi,” pungkas Bamsoet.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *