TRIBUNNEWS.COM-Wakil Ketua MPRS Syarief Hasan mencontohkan, UU MPRS Nomor XXV Tahun 1966 Pembukaan UU HIP terkait dengan banyaknya isu, multitafsir, dan tren yang nampak, yang memicu penolakan dari seluruh lapisan masyarakat. Sebut saja Majelis Ulama Indonesia (MUI), Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, TNI-POLRI purnawirawan Forkom, dan mantan Kepala BPIP.

Dalam keterangan tertulis yang diterima pagi hari, Selasa (6/6/2020). , Syarief Hasan juga mengimbau agar UU HIP tidak ditindak karena banyak persoalannya. Rencana Legislasi Nasional 2020 akan menghapus RUU ini.

Permasalahan paling mendasar dari Undang-Undang Ideologi Pancasila terletak pada prinsip-prinsip dasar Pancasila dalam Undang-Undang HIP, yang berbeda dengan prinsip-prinsip dasar yang diatur dalam Pembukaan UUD NRI 1945. Menurutnya, prinsip-prinsip dasar yang diatur dalam Pasal 3 Rancangan Hukum Humaniter Internasional belum lengkap dan secara teks berbeda dengan Pembukaan UUD 1945. Republik Indonesia. – “Perbedaan ini dapat menimbulkan multitafsir, kontroversi, pengurangan bahkan distorsi terhadap prinsip-prinsip Pancasila, sehingga menjadi sarana. Masukkan ideologi lain dalam Pancasila,” kata Syarief Hasan.

Asas pertama UU HIP hanya menyebutkan bahwa Tuhan akan membuka corong masuknya politeisme, yang bertentangan dengan sila pertama Pancasila. Asas kedua menyerukan kemanusiaan yang berbeda dengan sila kedua Pancassila, karena mengabaikan keadilan dan peradaban, sehingga mendistorsi Pancassila. Masyarakat harus kaya akan budaya di Indonesia. Ungkapan ini juga sangat berbeda dengan pengertian penyatuan bahasa Indonesia yang lebih memperhatikan perbedaan dalam kerangka bahasa Indonesia. Asas keempat mengacu pada sistem demokrasi yang tidak pernah ada dalam sila pancasila, dan berbeda dengan nilai musyawarah. Selain hanya menyebutkan prinsip kelima dari keadilan sosial, ia mengabaikan hukuman bagi semua orang Indonesia, sehingga dimungkinkan adanya multitafsir. -Syarief Hasan juga mengutarakan bahwa Pasal 5 UU HIP menyebutkan bahwa landasan utama Pancasra adalah keadilan sosial. Tentu saja tidak dapat dipungkiri bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia adalah salah satu tujuan Pancasila.Namun, sesuai dengan ketentuan tersebut, isolasi keadilan sosial sebagai landasan utama mengurangi arti penting Pancasila secara keseluruhan dan berkontribusi pada Pancasila. Tarik membuka kemungkinan. Menafsirkan Pancasila berdasarkan ideologi lain yang bertentangan dengan Pancasila.

Syarief Hasan juga tidak setuju dengan Pasal 6 UU HIP yang mengatur bahwa ciri utama Pancasila adalah kristalisasi Trisila dalam Ekasila. Pasalnya, istilah tersebut tidak pernah disebutkan dalam tabel status, sehingga bias bagi Pancasila, dan Trisila hanya mencantumkan tiga nilai, sedangkan Ekasila hanya menyebut satu nilai, yaitu gotong royong. Trisila dan Yekasila mengabaikan nilai ketuhanan tunggal dan nilai-nilai lain yang secara jelas tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Jika nilai ketuhanan yang tunggal tidak disebutkan, dimungkinkan juga untuk mendorong masuknya ideologi lain yang telah merasuk ke dalam Pancasila.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *