Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Bambang Soesatyo, Ketua Konferensi Permusyawaratan Rakyat Indonesia, meyakini kemampuan anak Indonesia lebih baik dibandingkan negara lain di dunia. Banyak anak di negara ini telah mencapai kesuksesan internasional dalam konteks kendala ekonomi dan sosial.

Misalnya, pianis berusia 13 tahun Joey Alexander dinominasikan untuk Grammy Awards 2016. Yuma Soerianto, programmer termuda di Global Developers Conference 2017, juga dikejutkan oleh ‘CEO Apple, Tim Cook. Atau desainer Cacat Rafi Abdurrahman Ridwan yang sukses menjadi perancang busana untuk ajang “Next Top Model” di Amerika Serikat.

“Selain penyesuaian psikologisnya, anak juga merupakan masa depan yang beradab, yang menunjukkan bahwa ada keterkaitan yang erat antara upaya dan upaya perlindungan anak. Untuk memajukan kemajuan bangsa dan negara. Karena bagi anak Indonesia ada yang sehat. Lahir di lingkungan sosial, tumbuh kembang menjadi krusial. Kantor Presiden MPR RI, Jakarta, hanya hadir sedikit orang pada Kamis (23/7/20).

I Gusti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak Bintang Puspayoga, Ketua Forum Keluarga dan perempuan dari 307 Aliansi Kabupaten Singa Indonesia, Asso, Indonesia.Ia juga merupakan anggota DPD RI DKI Jakarta, Silviana Murni dan Ketua Dewan Direksi Persatuan Singa India Yodianto Jaya .

Mantan DPR RI Ketuanya menegaskan hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja 2018. Survei tersebut menemukan bahwa dua pertiga remaja (67%) merupakan korban kekerasan dalam kehidupannya. Bentuknya berupa kekerasan emosional, kekerasan fisik, atau kekerasan seksual. Bahkan lebih meresahkan. Yang dikhawatirkan sebagian besar penulis adalah teman atau kolega mereka.

“Sebagai referensi lain, Komisi Kesejahteraan Sosial Anak mencatat perbandingan jumlah kasus kekerasan terhadap anak dari tahun 2011 hingga 2018. Pada 2011, terdapat 2.178 kasus kekerasan terhadap anak, dan pada tahun-tahun berikutnya “meningkat menjadi 4.885 kasus per 2018,” kata Bamsoet.

FKPPI, Kepala Kementerian Pertahanan, menambahkan meski dalam iklim pandemi Covid-19, tingkat kekerasan terhadap anak tetap penting. Berdasarkan data Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI PPA), sejak 1 Januari hingga 19 Juni 2020 terdapat 3000 kasus kekerasan terhadap anak, meliputi 852 kekerasan fisik, 768 kekerasan psikologis dan 1.848 kasus kekerasan. Kekerasan seksual. Kekerasan. “Kita harus menangani semua jenis kekerasan terhadap anak dengan serius. Pencegahan harus menjadi langkah utama. Bamsoet berkata:” Kita harus memberikan pengetahuan yang cukup untuk perlindungan diri anak kita dan menanamkannya dalam diri kita Lingkungan sekitar rumah, sekolah dan sosial. “Wapres Pemuda Pancasila (Pemuda Pancasila) meyakini bahwa kemajuan teknologi telah memberikan berbagai kemudahan di satu sisi, dan di sisi lain juga dapat menimbulkan efek negatif yang menggemparkan, terutama bagi anak-anak. Cybercrime (cybercrime) dan bullying melalui media sosial hanyalah beberapa contoh .

“Kecanduan internet mendorong anak untuk menjadi antisosial. Di seluruh Internet, pornografi dan berbagai pemahaman radikal dapat dengan mudah membayangi pemikiran anak. “Anak-anak. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk membangun karakter anak-anak kita agar dapat menguatkan diri dari berbagai pengaruh negatif. Salah satunya melalui empat pilar Musyawarah Rakyat Republik Indonesia Rakyat Indonesia,” Bamsoet Disimpulkan.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *