Jakarta, TRIBUNNEWS.COM-Bambang Soesatyo, juru bicara Konferensi Permusyawaratan Rakyat Indonesia, mendesak pemerintah segera menetapkan harga standar uji PCR di berbagai rumah sakit dan laboratorium kesehatan. Dengan cara ini, masyarakat yang secara sadar ingin mendiagnosis potensi jalur penularan Covid-19 tidak akan menghadapi harga tinggi. Standarisasi harga juga diperlukan agar tidak terjadi persaingan harga antar institusi kesehatan. -Sama dengan regulasi vaksin independen, perlu segera disiapkan agar seiring berjalannya waktu, pihak swasta bisa ikut serta dalam pembelian vaksin independen tanpa beban negara. Melibatkan swasta dapat membantu pemerintah memberikan vaksinasi kepada orang-orang kaya dan mereka yang ingin membantu masyarakat lain secara gratis, yang mengharuskan pemerintah melakukannya dengan harga dan lisensi yang tetap atau di bawah kendali pemerintah. Virus -19 tidak boleh digunakan. Karena tidak adanya standar harga, berbagai institusi medis dapat dengan bebas menetapkan harga mulai dari Rs 1 juta hingga Rs 5 juta. Pemerintah harus meningkatkan kesadaran masyarakat dengan menetapkan harga standar untuk ujian PCR . Bamsoet mengatakan usai mengunjungi Laboratorium Pusat Prodia di Jakarta, Sabtu (9/9/20), Presiden DPR RI ke-20 juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai institusi kesehatan yang akan terus meningkatkan deteksi Covid. Kualitas dan kuantitas pemeriksaan sampel virus -19. Odia berhasil. Prodia memiliki laboratorium di 127 kota di 34 provinsi dan terus meningkatkan kapasitas pemeriksaan sampelnya dari 450 pengujian per hari pada Mei 2020 hingga 2020 1.000 pengujian per hari di bulan Juli. Sekarang, pada September 2020, telah diubah menjadi 2.000 pengujian per hari.

“Hasil pemeriksaan relatif cepat. Ini dapat dirilis pada hari yang sama dengan pengambilan sampel, hingga H + 1. Jika setiap institusi medis dapat melakukan ini, banyak Bamsoet mengatakan bahwa siapa pun yang HIV-positif untuk Covid-19 dapat dites dengan cepat, virus Covid-19 dapat dengan cepat dikendalikan. Diharapkan pada Januari dan Februari 2021, Bio Farma sudah bisa memproduksi vaksinnya sendiri, sedangkan CoronaVac sebagai penangkal virus Covid-19.Bahan baku yang akan dikirim mencapai 260 juta dosis, dan produksi vaksin 130 juta dihitung. Pihak swasta mengimpor vaksin siap pakai dari negara lain, dan negara-negara tersebut tentunya sudah berhasil lolos uji BPOM, selain ketersediaan vaksin, berbagai tahapan rencana vaksinasi massal juga harus disiapkan mulai dari sekarang. Seharusnya tidak ada kekurangan. Jangan sampai vaksinnya tersedia, penerapan vaksinnya akan kacau. Makanya pihak swasta harus ikut berpartisipasi sebagai bentuk gotong royong melawan Covid-19, “tutup Bamsoet.

Add Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *